Breaking News

Danantara Suntikkan Dana ke Proyek Nikel Vale-GEM Senilai $1,4 Miliar di Tengah Meningkatnya Permintaan Global

Lembaga dana kekayaan negara, Danantara Indonesia, telah mengumumkan partisipasinya dalam investasi fasilitas peleburan (smelter) nikel senilai $1,4 miliar yang sedang dikembangkan oleh produsen baterai asal Tiongkok, GEM, dan perusahaan tambang Brasil, Vale. Proyek strategis ini berlokasi di Sulawesi Tengah, Indonesia.

Smelter baru yang mengadopsi teknologi high-pressure acid leaching (HPAL) ini dirancang untuk memproduksi 66.000 ton nikel dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP) setiap tahunnya setelah beroperasi penuh. Bahan baku utama akan dipasok dari bijih nikel yang berasal dari tambang milik Vale Indonesia.

Mendorong Agenda Hilirisasi Nasional

Langkah investasi ini merupakan bagian dari mandat Danantara untuk mendukung program hilirisasi industri yang dicanangkan pemerintah Indonesia, dengan fokus pada sektor-sektor strategis seperti kendaraan listrik (EV) dan rantai pasoknya.

“Dengan bersinergi bersama pelopor global dalam metalurgi hijau, kami tidak hanya memajukan agenda hilirisasi negara, tetapi juga memastikan bahwa aspek keberlanjutan dan inovasi tetap menjadi yang terdepan,” ujar Rosan Roeslani, CEO Danantara Indonesia, dalam sebuah pernyataan resmi.

Investasi di sektor nikel, di mana Indonesia merupakan pemasok terbesar di dunia, sejalan dengan upaya Danantara untuk menghimpun dana sebesar 50 triliun rupiah ($3 miliar) melalui penjualan instrumen yang disebut ‘Patriot Bonds’ kepada perusahaan-perusahaan di Indonesia. Sejak didirikan awal tahun ini, Danantara telah terlibat dalam beberapa proyek penting, termasuk memberikan pembiayaan untuk maskapai penerbangan nasional Garuda yang mengalami kesulitan keuangan, serta berinvestasi dalam proyek pabrik kimia senilai $800 juta milik Chandra Asri Pacific yang didukung oleh miliarder Prajogo Pangestu.

Prospek Cerah Pasar Produk Perak Nikel Global

Keputusan investasi ini diambil di tengah proyeksi pertumbuhan pasar global yang sangat positif untuk produk turunan nikel. Salah satu contohnya adalah pasar produk perak nikel (Nickel Silver), yang nilainya tercatat sebesar $3,86 miliar pada tahun 2024. Pasar ini diperkirakan akan tumbuh pesat hingga mencapai $5,94 miliar pada tahun 2030, dengan Tingkat Pertumbuhan Tahunan Majemuk (CAGR) sebesar 7,28%.

Pertumbuhan yang stabil ini didorong oleh meningkatnya permintaan dari berbagai industri pengguna akhir utama, seperti otomotif, elektronik konsumen, dan konstruksi. Selain itu, minat yang terus meningkat pada instrumen musik tiup dan pasar perhiasan global yang kian berkembang juga turut memicu permintaan terhadap perak nikel.

Pendorong Utama Pertumbuhan Pasar

Faktor kunci yang menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar ini adalah meningkatnya permintaan akan material yang tahan terhadap korosi di berbagai aplikasi industri. Perak nikel, yang merupakan paduan dari nikel, tembaga, dan seng, sangat dihargai karena ketahanannya yang luar biasa terhadap korosi, kekuatan yang tinggi, serta daya tarik estetisnya.

Di sektor otomotif, material ini digunakan untuk komponen trim dan perlengkapan interior karena kilaunya yang mewah dan daya tahannya. Sementara itu, di industri elektronik konsumen, penggunaannya pada konektor, sakelar, dan papan sirkuit terus meningkat berkat konduktivitas listrik yang baik serta ketahanannya terhadap keausan. Sektor konstruksi juga memanfaatkan durabilitas perak nikel untuk komponen struktural dan perlengkapan yang memerlukan ketahanan jangka panjang terhadap degradasi lingkungan.

Tren Pendukung dan Proyeksi Masa Depan

Pertumbuhan pasar ini juga didukung oleh tren global seperti urbanisasi yang pesat dan peningkatan pendapatan siap belanja (disposable income), terutama di negara-negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. Hal ini mendorong peningkatan konsumsi barang-barang dekoratif dan peralatan rumah tangga yang terbuat dari perak nikel. Di sisi lain, isu lingkungan dan dorongan menuju penggunaan material berkelanjutan membuat produsen melirik material yang dapat didaur ulang seperti perak nikel, yang pada gilirannya turut mendukung ekspansi pasar.

Sebagai gambaran, pada tahun 2025, permintaan global untuk material tahan korosi di sektor otomotif diproyeksikan akan menyumbang sekitar 30% dari total konsumsi perak nikel. Diperkirakan sekitar 15.000 metrik ton material ini akan digunakan hanya untuk komponen trim dan pengencang otomotif. Dengan terus berjalannya investasi dalam penelitian dan pengembangan serta inovasi teknologi pemrosesan, pasar produk perak nikel siap untuk mengalami pertumbuhan jangka panjang yang solid, didorong oleh perpaduan antara nilai estetika, utilitas fungsional, dan keunggulan ekonomis.