Breaking News

Kabar Konservasi Satwa: Dari Pelestarian Bekantan di Tarakan hingga Wajah Baru Kebun Binatang Akron

Dengan hidung yang memanjang dan bulu cokelat kemerahan yang khas, bekantan selalu berhasil mencuri perhatian siapa saja yang melihatnya. Atraksi mereka saat berayun lincah dari dahan ke dahan dengan perut buncitnya seakan menjadi hiburan tersendiri di alam liar. Kabar buruknya, primata asli pulau Kalimantan ini sekarang tergolong sebagai spesies langka. International Union for the Conservation of Nature (IUCN) secara resmi menetapkan status terancam punah bagi bekantan, menyusul terus menyusutnya populasi akibat alih fungsi lahan, degradasi habitat, dan laju perkembangbiakan yang sulit.

Bagi warga maupun wisatawan yang sedang berada di Kota Tarakan, mengamati primata eksotis ini tidak harus dengan mengunjungi kebun binatang konvensional. Terdapat Kawasan Konservasi Hutan Mangrove dan Bekantan yang letaknya sangat strategis di tengah hiruk-pikuk kota dan berbatasan langsung dengan bibir pantai. Tempat ini bertransformasi menjadi rumah pelindung bagi puluhan individu bekantan, mulai dari pejantan tangguh, betina dewasa, hingga anak-anak mereka yang menggemaskan. Saat menjejakkan kaki di kawasan tersebut, hawa sejuk dari rimbunnya berbagai varietas tanaman bakau—seperti mangrove berakar tunjang, akar napas, hingga akar lutut—langsung menyambut pengunjung.

Kawasan ini sejatinya memegang peran ganda; selain bertindak sebagai paru-paru kota, hutan ini sangat krusial dalam menyelamatkan populasi bekantan yang semakin terdesak. Karena dikenal sebagai hewan pemalu, mereka biasanya menghabiskan banyak waktu di kanopi atas untuk memakan dedaunan pohon bakau dan pedada. Walau demikian, ada momen istimewa di mana pengunjung dapat menyaksikan secara langsung kawanan hewan ini saat menyantap suplai makanan tambahan dari pihak pengelola.

Fakta Menarik di Balik Perilaku Bekantan Heri, pengelola kawasan konservasi tersebut menceritakan bahwa jadwal pemberian makan sengaja diatur pada waktu-waktu tertentu agar pengunjung bisa ikut berinteraksi dengan hewan yang secara bertahap mulai jinak ini. Ia sendiri rutin memantau kebersihan habitat dan menyiapkan setidaknya enam tandan pisang setiap harinya. Melalui rutinitas tersebut, Heri menemukan sejumlah perilaku unik dari primata hidung panjang ini.

Meski bisa melahap aneka ragam jenis makanan, bekantan rupanya jauh lebih memfavoritkan pisang kepok hijau yang masih mentah ketimbang pisang matang. Kebiasaan ini dipicu oleh warna kulit pisang hijau yang identik dengan warna dedaunan segar kesukaan mereka di alam liar. Fakta menarik lainnya, pengunjung amat disarankan memakai pakaian berwarna gelap seperti hitam dan tidak menyemprotkan parfum jika ingin mendekat. Aroma tajam terbukti membuat hewan rentan ini merasa terancam dan akhirnya memilih untuk menjauh.

Misi Pelestarian Global di Kebun Binatang Akron Beralih dari habitat asli di Indonesia, komitmen serius untuk menjaga keberlangsungan hidup satwa langka juga terpampang nyata di Amerika Serikat. Kebun Binatang Akron kini tengah bersiap memperkenalkan sejumlah penghuni baru di kawasan Sherbondy Hill. Jadwal perkenalan pada 16 Mei ini dirancang agar sejalan dengan selesainya proyek pembaruan zona Legends of the Wild. Menjadi catatan penting, empat dari spesies yang akan menghuni area tersebut saat ini masuk dalam kategori terancam punah.

Salah satu satwa pendatang yang kehadirannya cukup dinanti adalah monyet saki muka putih asal Amerika Selatan. Hewan berbobot sekitar dua kilogram ini sering dijuluki “monyet terbang” berkat kemampuan melompatnya yang mencengangkan. Pihak kebun binatang akan menyambut satu keluarga saki yang terdiri dari pejantan bernama Toumi, betina bernama Clementine, serta anak mereka yang baru berusia satu tahun, Ripley.

Kelompok primata langka lain yang akan segera meramaikan kebun binatang ini adalah dua spesies tamarin yang berada di ambang kepunahan kritis. Pengunjung nantinya bisa melihat langsung kelincahan tamarin kepala kapas, spesies primata mungil asal hutan tropis Kolombia yang khas dengan jambul putihnya. Dua saudara jantan, Chestnut dan Clark, akan menjadi wajah baru dalam jajaran primata di fasilitas tersebut. Bersamaan dengan itu, hadir pula sepasang saudara tamarin singa emas bernama Mico dan Coco. Primata yang berhabitat asli di kawasan pesisir Atlantik Brasil ini sangat mudah dikenali melalui bulu jingga menyala dan surai panjang yang mereplika penampilan seekor singa.

Kehadiran Burung Eksotis dan Amfibi Super Kebun binatang ini tidak hanya memfokuskan pembaruan pada koleksi primatanya. Mereka turut menambah daftar satwa dengan mendatangkan sepasang nuri matahari (sun conure) bernama Vega dan Archimedes. Burung endemik kawasan utara Brasil yang populasinya kian menyusut ini sangat atraktif dengan paduan bulu kuning, jingga, dan hijau, serta dikenal gemar bersosialisasi dan bersuara nyaring. Selain itu, dua ekor betina aracari hijau juga akan dipamerkan. Aracari hijau adalah kerabat terkecil dari keluarga burung tukan yang memiliki paruh panjang berwarna-warni, biasa ditemukan di wilayah Guiana hingga Venezuela.

Sebagai pelengkap deretan satwa unik ini, Kebun Binatang Akron mendatangkan makhluk air dengan kemampuan pemulihan sel paling mutakhir di dunia hewan. Dua ekor axolotl, amfibi endemik Meksiko bersatus sangat terancam punah bernama Neo dan Xochi, akan segera menempati tangki baru mereka. Salamander air ini begitu populer di kalangan ilmuwan karena secara ajaib mampu menumbuhkan kembali anggota tubuhnya yang terpotong, memulihkan organ jantung, hingga meregenerasi sebagian fungsi otaknya secara mandiri.