Usai Divaksin, Seorang Guru Honorer di Jeneponto Mengalami Kelumpuhan

  • Whatsapp

CAKRAWALAinfo.id • JENEPONTO — Kejadian tak terduga pasca disuntik vaksin virus corona (Covid-19) kembali terjadi di Indonesia.

Kali ini, kejadian tak terduga tersebut dialami oleh seorang guru Honorer di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hikam Pitape, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Bacaan Lainnya

Guru Honorer tersebut diketahui bernama Irawati (37) warga Dusun Bontosunggu Selatan, Kecamatan Turatea.

Wanita berusia 37 tahun itu mengaku mengikuti vaksinasi Covid-19 tahap I di Puskesmas Bontomatene pada 15 Juni 2021 kemarin.

Irawati menuturkan sebelum disuntik vaksin ia memang sedang panas dingin dan sudah terjadi beberapa hari.

Ia menjalani vaksinasi setelah ditelepon oleh salah satu rekan gurunya. Dari hasil percakapakan mereka, guru tersebut menyebut jika Irawati tak ikut vaksin, kemungkinan besar dia tak lulus P3K.

Mendapat kabar itu, ia kemudian beranjak dari sekolah menuju Puskesmas Bontomatene.

“Disuruhka turun kalau tidak divaksin tidak lulus P3K. Makanya saya langsung ke Puskesmas. Disitu banyak teman ku tidak divaksin karena sama penyakitku panas dingin juga deman, batuk-batuk,” ujarnya.

Dipuskesmas, ia langsung mendatangi dokter untuk diwawancarai sebelum vaksinasi berlangsung.

“Jadi diperiksa dokter di wawancarai kutaya semua keluhan ku bilang panas dingin ini dok, habis dioperasi juga. Semua keluhanku saya tanya semua,” jelasnya.

Kata dia, meski sudah menyampaikan sejumlah keluhan yang dialaminya, ia tetap dipanggil dan diarahkan menuju tempat vaksinasi.

“Ada panggilan disuruh masuk untuk divaksin. Terus sampai disitu ditempat vaksin, saya tanya lanjut vaksin kah?. baru teman-temanku tidak ikut divaksin. Ibu bidan bilang lanjut karena ada lanjut vaksin mu,” ungkapnya.

Usai divaksinasi, ia kemudian pulang sembari menggunakan sepeda motornyab untuk kembali ke sekolah tempat dirinya mengajar.

Setiba di sekolah, tiba-tiba ia mengeluh kepada guru lainnya karena kepalanya pusing.

“Jadi saya pulang naik motor, sampai di sekolah saya tanya teman bilang saya pusing ini. Tapi ada saya kerja lapor makanya saya selesaikan itu lapor,” katanya.

Bukan hanya pusing pada bagian kepala, ia juga mengaku mual serta badanya terasa lumpuh hingga tulang-tulang seperti remuk.

“Pusing, terus tulangku kaya remuk baru sakit semua badanku. Jadi saya usahakan naik ke rumah ku di Kecamatan Arungkeke. Jadi sampai diatas, tulang-tulangku sakit semua,” terangnya.

Keesokan harinya, ia menyampaikan keluhan kepada suaminya. Ia kemudian meminta untuk dibawa ke bidang agar diperiksa. Namun, diatas motor, ia lantas muntah-muntah.

“Besoknya begitu saya tanya suamiku antarka dulu ke bidang Kada’. Jadi saya kesana. Tapi memang diatas motor saya muntah-muntah,” pintanya.

Ibu beranak dua ini hanya bisa terbaring di rumahnya saja selama 15 hari. Seluruh tubuhnya pun sulit digerakkan. Bahkan, dirinya juga terancam lumpuh.

“Kalau saya bangun itu pusing, terus tulangku kaya remuk dan dada ku panas seperti terbakar,” pungkasnya.

 

 

Penulis: Akbar Razak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *