Bakar Rumah Karena Kawin Lari, Keluarga Perempuan: Itu Bukan Rumah Tapi “Sarang Babi”

oleh -
Hasbi (tengah) Keluarga Perempuan.

Dikabarkan Jurnalis Cakrawalainfo.id, A. Syaiful.

CAKRAWALAINFO.ID, SINJAI — Terkait persoalan kawin lari yang berujung pembakaran rumah milik laki laki di Dusun Tassoso, Desa Gunung Perak, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai, Sulsel yang terjadi pada Rabu, 30 Oktober 2019 silam oleh puluhan warga, ditanggapi sejumlah warga dan tokoh masyarakat setempat.

Mereka mengatakan, aksi pembakaran rumah tersebut sudah sesuai sangsi hukum adat yang diberikan kepada pria, bahri yang telah membawa lari seorang anak gadis bernama Hawa. Hukum adat itu pun telah disepakati bersama baik pihak perempuan dan pihak laki maupun tokoh masyarakat setempat.

Hukum adat itu berisi jika laki laki kembali ke kampung dan belum secara resmi datang meminang ke keluarga perempuan, maka rumah pihak laki laki dianggap “sarang Babi” dan itu harus dimusnahkan.

“Kalau ada dua orang laki laki dan perempuan yang silariang (kawin lari, red) itu dikenakan sangsi dari hukum adat tidak bisa masuk kampung sebelum datang baek (melamar secara resmi, red), tapi kalau dalam kawin lari si laki laki masuk kampung dan pulang ke rumahnya, kami anggap kalau rumahnya itu sebagai sarang babi dan itu harus di musnahkan,” jelas salah seorang tokoh masyarakat, Puang Dudding, kepada CakrawalaInfo, Selasa, (28/01/20)

Akibat pembakaran rumah tersebut, delapan orang warga yang di duga melakukan pembakaran diamankan polisi. Hal inipun dianggap tidak adil oleh Puang Dudding, pasalnya ke delapan orang tersebut hanya menjalankan sangsi adat yang telah disepakati bersama terlebih sudah kesepakatan damai pemilik rumah dengan para pelaku namun tetap dipenjara.

“Inimi saya bingung pak, ada perdamaian tapi mereka tetap dipenjara sampai sekarang, lagi pula mereka itu hanya menjalankan sangsi hukum adat, jadi saya anggap ini tidak adil,” kata Puang Dudding.

Hal yang sama juga dikatakan oleh salah seorang keluarga perempuan, Hasbi.Ia mengutarakan, jika masyarakat setempat telah menyampaikan sebelumnya kepada laki laki agar untuk tidak masuk kampung sebelum ada persetujuan keluarga untuk menyetujui dan merestui hubungan mereka.Namun hal itu tetap diabaikan oleh pihak laki laki. Bahri tetap masuk kampung dan pulang ke rumahnya. Hal inilah yang membuat masyarakat setempat geram dan menyatakan jika rumah Bahri adalah “Sarang Babi” yang harus dimusnahkan dengan cara dibakar karena hukum adat telah dilanggar oleh Bahri.

“istilahnya ini perbuatan Siri’ (Harga diri, red) tapi dia waktu itu dia (Bahri) tiba tiba masuk dan pualng kerumahnya, jadi istilah kami di sini rumah yang dibakar adalah sarang babi,” jelas Hasbi.

Baik Keluarga perempuan dan masyarakat setempat berharap, agar pihak kepolisian membebaskan ke delapan orang warga yang saat ini masih ditahan.

Sekedar diketahui, kasus pembakaran rumah karena persoalan adat dan diduga dilatarbelakangi persoalan kawin lari atau silariang istilah orang Bugis-Makassar yang membuat massa membakar rumah milik Bahri. Beruntung saat kejadian tak ada satupun penghuni yang berada di dalam rumah sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

Bahri kawin lari dengan kekasihnya inisial HW pada 2018.

Editor : Rheynold.